
Media kara news. SIDRAP Sidenreng Rappang, 31 Juli 2026 — Sebagai upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan santri, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Kesehatan (KKN-PK) Angkatan-69 Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk

“SEHATI” – Santri Sehat, Higienis, dan Terbebas dari Skabies pada hari Jumat, 31 Juli 2026, bertempat di Pesantren Muammar Gandhi. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang santri dan berlangsung dengan lancar serta antusias dari awal hingga akhir acara.

Kegiatan ini digagas sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan pondok pesantren yang secara epidemiologis rentan terhadap penularan penyakit kulit menular, khususnya skabies, akibat pola hunian bersama dalam satu ruang asrama, penggunaan barang pribadi secara bergantian, serta keterbatasan akses sarana air bersih dan sanitasi.
Skabies dapat menimbulkan rasa gatal yang intens, terutama pada malam hari, sehingga mengganggu kualitas tidur, menurunkan konsentrasi belajar, bahkan berisiko menimbulkan infeksi sekunder apabila tidak dicegah dan ditangani sejak dini.Penanggung jawab kegiatan, Dewi Angreani, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa

kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan santri mengenai penyebab, cara penularan, gejala, hingga pencegahan skabies, sekaligus memperkuat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan asrama.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu membekali santri dengan keterampilan praktis seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang benar, kebiasaan menjaga kebersihan diri sehari-hari, serta mendorong perubahan sikap dan perilaku santri ke arah pola hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan.

Program ini tidak dimaksudkan untuk menstigmatisasi kondisi kesehatan santri tertentu, melainkan sebagai bentuk pemberdayaan agar santri memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga kesehatan dirinya secara mandiri dan berkelanjutan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ilmu kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada upaya pencegahan sejak hulu (upstream prevention), bukan sekadar pengobatan setelah penyakit muncul.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara interaktif melalui rangkaian pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta mengenai skabies dan PHBS, dilanjutkan dengan penyampaian materi edukasi menggunakan media power point dan leaflet, sesi tanya jawab yang memberi ruang bagi santri untuk berdiskusi dan mengklarifikasi materi, post-test untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta, serta pengisian kuesioner evaluasi kepuasan terhadap jalannya kegiatan.
Para santri terlihat aktif mengikuti setiap sesi, mulai dari pemaparan materi hingga sesi diskusi. Antusiasme ini turut disampaikan oleh salah satu peserta kegiatan, Faqih, santri Pesantren Muammar Gandi yang mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.

“Kami merasa senang dengan adanya sosialisasi dan edukasi seperti ini agar kami bisa lebih sadar akan keadaan pondok, agar terhindar dari berbagai penyakit, terutama penyakit kulit atau yang kakak tadi jelaskan, penyakit skabies,”ujar Faqih.
UUngkapan tersebut mencerminkan bahwa kegiatan edukasi ini disambut positif oleh para santri dan dinilai memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan asrama
Diharapkan, dengan bekal pengetahuan yang diperoleh, santri mampu mengenali gejala skabies sejak dini, memahami langkah pencegahan seperti tidak berbagi barang pribadi (handuk, sarung, dan alat mandi), serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja individu mahasiswa KKN-PK Angkatan-69 Universitas Hasanuddin yang berlokasi di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan dilaksanakan dengan dukungan swadana serta swadaya mahasiswa.
Program ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam bidang kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya promotif dan preventif di lingkungan pondok pesantren.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif di kalangan santri untuk saling mengingatkan dan mendukung penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan pesantren, sehingga risiko penularan skabies dapat ditekan secara berkelanjutan dan kualitas hidup santri semakin meningkat.(Tmr-Un)
