
Media kara news. – PARE-PARE sedang mengalami perubahan penting dalam cara kekuasaan dijalankan di tubuh birokrasi. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Tasming Hamid, Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai bekerja dalam iklim yang lebih tenang, lebih rasional, dan lebih dapat diprediksi.
Tidak ada lagi suasana tegang akibat ledakan emosi, keputusan mendadak, atau ketidakjelasan arah.Yang hadir justru pendekatan baru: kerja dinilai berdasarkan kinerja, bukan perasaan pimpinan.Tasming Hamid memperlihatkan bahwa ketegasan tidak harus identik dengan kemarahan, dan disiplin tidak harus dibangun lewat tekanan psikologis.
ASN diarahkan melalui mekanisme kerja yang jelas, target yang terukur, dan komunikasi yang relatif stabil. Ini menciptakan suasana kerja yang lebih dewasa dan profesional.
Ketegasan yang Menghadirkan Kepastian Tasming Hamid tidak dikenal sebagai pemimpin yang gemar meninggikan suara atau mempermalukan ASN di ruang publik.
Ia memilih bekerja melalui sistem: kehadiran diperhatikan, tugas dipantau, dan tanggung jawab dievaluasi secara berjenjang. ASN yang bekerja dengan baik diberi ruang, sementara yang lalai diarahkan untuk memperbaiki kinerjanya melalui jalur administratif yang tertib.
Pendekatan ini memberi satu hal yang sangat penting dalam birokrasi: kepastian.ASN tahu apa yang diharapkan, tahu standar yang harus dipenuhi, dan tahu bahwa keputusan pimpinan tidak bergantung pada suasana hati.
Dalam perspektif administrasi publik modern, ini adalah ciri kepemimpinan berbasis sistem merit: pemimpin hadir sebagai pengarah, bukan sebagai sumber ketakutan. Bayang-Bayang Masa Lalu: Ketika Kekuasaan Terasa Personal .
Sebaliknya, gaya kepemimpinan wali kota sebelumnya di masa lalu masih menyisakan kesan kuat di kalangan ASN Parepare. Banyak yang menggambarkannya sebagai periode dengan tekanan tinggi, komunikasi keras, dan keputusan kepegawaian yang kerap terasa mendadak. Nonjob dan rotasi jabatan menjadi momok yang menghantui, bukan karena evaluasi kinerja yang transparan, tetapi karena kekhawatiran akan penilaian personal pimpinan.
Pola seperti ini dikenal dalam ilmu birokrasi sebagai kepemimpinan personalistik. Kekuasaan dijalankan melalui figur, bukan prosedur. Dampaknya bukan peningkatan kualitas pelayanan publik, melainkan birokrasi yang defensif: ASN bekerja untuk menghindari masalah, bukan untuk menciptakan inovasi.
HIronisnya, di tingkat nasional wali kota sebelumnya kini sering tampil sebagai pengkritik kebijakan pusat terkait ASN. Namun bagi sebagian birokrat Parepare, kritik itu terdengar paradoksal jika dibandingkan dengan pengalaman mereka di masa lalu saat kekuasaan daerah dijalankan dengan pendekatan yang jauh dari prinsip ketenangan dan kepastian. Dua Pendekatan, Dua Budaya Kerja .
Tasming Hamid menghadirkan pola kepemimpinan yang mendidik birokrasi, bukan menekan mentalnya. ASN tidak dibentuk menjadi pegawai yang selalu waspada terhadap kemarahan atasan, melainkan aparatur yang sadar tanggung jawab dan fungsi pelayanan publik.
Sebaliknya, gaya lama yang keras dan emosional cenderung melahirkan birokrasi yang patuh secara formal, tetapi miskin keberanian untuk berpikir dan berinisiatif.
Pelayanan publik yang berkualitas tidak lahir dari rasa takut. Ia tumbuh dari rasa aman bekerja dalam sistem yang adil dan konsisten. Parepare Sedang Berubah Arah Hari ini, Parepare bukan sekadar berganti wali kota.
Ia sedang mengganti cara kekuasaan dijalankan. Dari kepemimpinan yang keras dan personal menuju kepemimpinan yang tegas namun rasional.
Dari birokrasi yang bekerja karena takut, menuju birokrasi yang bekerja karena sadar tanggung jawab.Tasming Hamid tampak memahami satu prinsip dasar pemerintahan modern:ASN bukan objek luapan emosi, melainkan instrumen negara yang harus dikelola dengan akal sehat, aturan, dan visi jangka panjang.
Di situlah letak perbedaannya yang paling mencolok dan di situlah Parepare mulai bernapas lebih lega.(Tmr-Ifan)
